Patung Tuhan Yesus Memberkati dipastikan berdiri pada perayaan Paskah tahun depan. Patung ini dibangun sebagai ungkapan syukur Ir Ciputra kepada Tuhan atas segala berkat yang diterima. Melalui patung Tuhan Yesus, Ciputra ingin mempersembahkan sebuah ikon baru untuk kota Manado yaitu sebuah lokasi tujuan wisata religi yang baru bagi masyarakat nusantara dan mancanagera.
Patung yang Sabtu (15/04) pekan lalu telah dilakukan peletakan batu pertama oleh Gubernur Sulut Drs SH Sarundajang ini diperkirakan menjadi patung kedua tertinggi sesudah patung Tuhan Yesus Christ The Redeemer di Corcovado Rio De Janeiro.
Patung ini akan terletak di puncak bukit yang paling strategis di kawasan CitraLand Winangun. Patung Tuhan Yesus akan menghadap kota Manado dan pemandangan pantai serta pulau Manado Tua. Patung yang akan dibuat langsung oleh Ciputra ini akan dibangun setinggi 50 meter yang terdiri dari 20 meter landasan pedestal patung dan badan patung setinggi 30 meter. Patung Tuhan Yesus ini akan berdiri di ketinggian 192 meter dari lokasi CitraLand dan total 242 meter di atas muka laut kota Manado.
”Diharapkan dengan demikian banyak orang dapat menikmati suasana rohani di lokasi patung dan memberikan inspirasi kepada setiap pengunjung tentang kehadiran Tuhan Yesus menjadi manusia seperti kita untuk memperlihatkan cinta kasih Tuhan yang luar biasa,” ujar Ciputra.
Mengelilingi patung Tuhan Yesus Memberkati, akan diletakkan empat buah patung dengan masing-masing sebuah prasasti yang menggambarkan penderitaan rakyat Manado selama Perang Dunia II. Dengan meletakkan ke empat patung ini di kaki patung Tuhan Yesus terdapat pesan untuk setiap orang yang dalam penderitaan agar datang kepada Tuhan yesus untuk mendapatkan kelegaan.
Setiap patung disertai dengan sebuah lempengan beton prasasti dengan ukuran 1,4 m x 1,4 m sebagai emblem yang masing-masing memiliki gambar tulisan 1942-1945, lambang burung manguni yang juga menjadi lambang kota Manado, gambar pohon kelapa dan lambang kerajaan asing. Kehadiran prasasti yang berbentuk emblem ini menunjukkan bahwa ke empat patung ini memang memiliki pesan dengan nilai historis.
Ke empat patung tersebut bukan saja mampu menggambarkan dengan tepat apa yang terjadi selama masa Perang Dunia II, tetapi juga menggambarkan yang telah terjadi di masa kecil Ciputra. Gambaran pedagang yang menderita adalah cocok dengan gambar sosok ayah Ciputra yang ditangkap oleh penjajah pada 1944 di Bumbulan dan dibawa ke Manado. Ayah Ciputra kemudian mati di penjara Manado. Sampai saat ini Ciputra tidak mengetahui letak kuburan ayahnya.
Patung-patung ini dibuat dari dua bongkah batu solid yang diambil dari sungai Ciliwung Bogor. Masing-masing patung diperkirakan beratnya 2 ton dan berukuran kurang lebih 1 m3. ke empat ini dibuat oleh Bernard Los di Bogor. Namun rencana untuk mendirikan monument bagi rakyat Manado ini tidak terlaksana karena perubahan politik pada 1949. Bernard Los sendiri kembali ke Belanda sejak 1951 dan meninggalkan surat kuasa kepada sahabatnya untuk mengurus patung-patung itu. Setelah terabaikan selama 55 tahun, Ciputra membelinya dan akan meletakkan di kaki patung Tuhan Yesus di CitraLand Manado.
Selama masa penyusunan konsep dan perencanaan patung, Ciputra berdoa terus-menerus dan memohon agar Tuhan Yesus sendiri memberikan inspirasi kepadanya. Setelah melalui pergumulan dan perenungan akhirnya Ciputra memutuskan apa yang menjadi konsep utama dari patung dan akan dituliskan dalam prasasti yakni judul patung ‘Tuhan Yesus Memberkati’, sejumlah firman Tuhan dan motto orang Sulawesi Utara yakni Sitou Timou Tumou Tou.